Saturday, December 6, 2025

FOKUS PADA TUJUAN

 Kisah Yohanes Pembaptis ditulis didalam ke-empat Injil.


1. Injil Matius menempatkan kisah ini pada masa sekembalinya Keluarga Yusuf dan Maria serta Bayi Yesus Kristus dari penyingkiran di Mesir (Mat. 3:1-17). Namun kisah ini bukan kisah dalam urutan waktu. Kata "pada waktu itu" di ayat 1 menunjukkan tentang masa awal pelayanan Yohanes Pembaptis. 

2. Injil Markus menempatkan kisah ini diawal tulisannya (Mark. 1:1-11) sebagai sebuah pengakuan tentang tugas dan tanggung jawab Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi kedatangan Mesias.

3. Injil Lukas lebih lengkap dan lebih dramatis dalam menjelaskan tentang Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:5-80; 3:1-22)

4. Injil Yohanes (Yohanes Rasul) juga menempatkan kisah ini diawal tulisannya (Yoh. 1:19-34) setelah menjelaskan tentang Firman Allah yang menjadi manusia..... the Word of God became flesh atau bahasa teologis nya Inkarnasi atau incarnatio - menjadi daging (1:14)


Satu bagian detail menceritakan kepada kita tentang umur kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus tidak terlalu jauh. Lukas 1:26 menjelaskan itu. 


Namun kemudian tempat dimana mereka dibesarkan dan menjalani hari hari mereka hingga memulai pelayanan mereka yang berbeda. Lukas 1:80 menjelaskan tentang bagaimana Yohanes Pembaptis menjalani hari hari hidupnya. Lukas 2:52 menjelaskan tentang bagaimana cara hidup Kristus. 


Kedua tokoh Alkitab ini menjalani pembentukan yang berbeda, namun mereka memiliki tujuan yang sama yakni penggenapan janji keselamatan Allah bagi manusia didalam nama Yesus Kristus. Dan ini adalah satu fakta yang tidak terbantahkan. 


Bagaimana kedua tokoh ini menjaga tujuan hidup yang sudah ditentukan bagi mereka hingga mereka bisa menuntaskan tugas tanggung jawab mereka dengan baik? 


1. Komitmen yang kuat. Yohanes menjalankan misinya dengan berani dan setia, mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias dalam keadaan yang sederhana dan pesan pertobatan dan baptisan air. Sedangkan Kristus menjalankan misinya dengan kasih, kesabaran, dan ketaatan dan mengajarkan hal kerajaan Sorga, kasih dan mukjizat serta mau datang kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan untuk menguatkan dan menyelesaikan persoalan persoalan mereka. 


2. *Ketaatan*: Yohanes Pembaptis taat pada panggilan Tuhan untuk membaptis Yesus, meskipun dia merasa tidak layak. Yesus Kristus taat pada kehendak Bapa, bahkan ketika itu berarti menjalani penderitaan dan kematian.

3. *Kerendahan hati*: Yohanes Pembaptis mengakui dirinya tidak layak untuk membaptis Yesus, dan Yesus Kristus menunjukkan kerendahan hati dengan menjadi hamba bagi semua orang.

4. *Kasih dan belas kasihan*: Yesus Kristus menunjukkan kasih dan belas kasihan kepada orang-orang yang berdosa, sakit, dan miskin. Yohanes Pembaptis juga menunjukkan kasih dengan membaptis orang-orang yang bertobat.

5. *Ketabahan dan keteguhan*: Yohanes Pembaptis tetap setia pada kebenaran, bahkan ketika menghadapi penentangan dan penjara. Yesus Kristus tetap setia pada misi-Nya, bahkan ketika menghadapi penderitaan dan kematian.


Teladan-teladan ini dapat membantu kita memperkuat iman dan menjalani hidup kita dengan lebih baik. 


Marilah kita mengambil bagian dalam misi Allah dengan talenta yang dimiliki untuk mencapai rencana rencana besar TUHAN didalam hidup kita.

Tuesday, November 4, 2025

BENIH ILAHI DIDALAM KU

 Dalam Alkitab, kata "benih" diterjemahkan dari beberapa kata dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Berikut beberapa contoh:


*Bahasa Ibrani:*


1. *זֶרַע (zera')*: Kata ini sering diterjemahkan sebagai "benih" atau "keturunan". Contoh: Kejadian 1:11, 12: "Tanah itu menumbuhkan rumput-rumputan dan tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan benih (זֶרַע) menurut jenisnya."


*Bahasa Yunani:*


1. *σπέρμα (sperma)*: Kata ini juga diterjemahkan sebagai "benih" atau "keturunan". Contoh: Matius 13:31: "Yesus menyampaikan perumpamaan lain kepada mereka, yaitu: 'Kerajaan Allah itu seperti sebutir biji sesawi yang diambil dan ditaburkan di ladang.'" (σπέρμα digunakan dalam konteks benih yang ditaburkan)

2. *σπέρματος (spermatos)*: Bentuk genitif dari σπέρμα, sering digunakan dalam konteks "keturunan" atau "anak-anak". Contoh: Galatia 3:29: "Dan jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah keturunan (σπέρματος) Abraham."

Kedua kata ini memiliki makna yang terkait dengan benih sebagai sumber kehidupan dan pertumbuhan, serta keturunan sebagai hasil dari benih tersebut. 

Dalam 1 Petrus 1:23, kata "benih" dalam bahasa Yunani adalah *σπορᾶς (sporās)*, yang merupakan bentuk genitif dari *σπορά (spora)*, yang berarti "benih" atau "penaburan". Namun, dalam beberapa versi Alkitab, kata ini diterjemahkan dari kata *λόγος (logos)*, yang berarti "Firman" atau "perkataan", karena ayat tersebut menyebutkan "benih yang tidak dapat binasa" adalah "Firman Allah yang hidup dan kekal".

Jadi, dalam konteks 1 Petrus 1:23, kata "benih" lebih merujuk pada Firman Allah sebagai sumber kehidupan baru dan kekal, bukan benih secara biologis.

Ayat tersebut berbunyi: "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang dapat binasa, tetapi dari benih yang tidak dapat binasa, yaitu Firman Allah yang hidup dan kekal." (1 Petrus 1:23)

Kata "benih" di sini merujuk pada *σπορᾶς (sporās)*, tetapi konsepnya lebih bersifat metaforis, menekankan kuasa Firman Allah dalam melahirkan kita kembali.

 Berdasarkan 1 Petrus 1:23, kita akan melihat apa makna penting dari kata "benih" yang dimaksudkan oleh Rasul Petrus.


1. *Kelahiran baru melalui Firman Allah*: Petrus menekankan bahwa kita telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang dapat binasa, tetapi dari benih yang tidak dapat binasa, yaitu Firman Allah yang hidup dan kekal. Ini menunjukkan betapa pentingnya Firman Allah dalam kehidupan kita sebagai sumber kehidupan baru dan kekal.


2. *Firman Allah yang kekal dan hidup*: Petrus menggambarkan Firman Allah sebagai "hidup dan kekal." Ini menekankan kuasa dan kekuatan Firman Allah yang tidak terbatas oleh waktu atau ruang. Firman Allah tetap relevan dan efektif dalam kehidupan kita sehari-hari.


3. *Pertumbuhan rohani yang berkelanjutan*: Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Kristus. Ini berarti kita perlu terus memperdalam pemahaman kita akan Firman Allah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


4. *Kehidupan yang berbeda*: Petrus menekankan bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah yang baru, yang berarti kita dipanggil untuk hidup berbeda dari dunia ini. Ini mencakup cara kita berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain.


5. *Kekudusan dan kepatuhan*: Petrus mendorong kita untuk hidup kudus dan mematuhi Firman Allah dalam segala aspek kehidupan kita. Ini bukan hanya tentang tindakan luar, tetapi juga tentang motivasi hati dan pikiran kita.


Poin poin ini biar menjadi refleksi bagi kita, sudah sejauh mana kita memahami tentang siapa kita dihadapan Allah dan dihadapan manusia.

Saturday, October 18, 2025

KESETIAAN TUHAN

 Mazmur 146:1-10

Sub Thema "Kesetiaan TUHAN"


Armenia adalah negara yang mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama resmi negara pertama didunia pada tahun 301 dibawah pemerintahan raja Tiridates III. 

Armenia terus menjaga warisan iman ini hingga sekarang, sebagai satu satunya negara Kristen dikawasan itu yang dikelilingi oleh negara negara radikal Islam seperti Turki, Azerbaijan dan Iran. Armenia juga pernah ada dibawah kendali Rezim Komunis Uni Soviet selama berpuluh puluh tahun, namun TUHAN memulihkan mereka kembali. 


Apa kunci pemulihan dari TUHAN bagi bangsa ini? Mazmur 146:7 menjadi ayat kunci pengakuan akan keterlibatan TUHAN dalam segala aspek kehidupan mereka, baik secara individu maupun secara nasional. 


Bagaimana kita mengalami kesetiaan TUHAN didalam kehidupan kita?


A.  Pujian dan pengakuan kita akan kemahakuasaan TUHAN (1,2). Jangan seperti pepatah dunia "Kacang lupa kulitnya" (band. Lukas 17:11-19)


B. Jangan mengandalkan manusia (3,4). Terkadang kita lebih fokus kepada kuasa manusia yang kelihatan daripada kepada kuasa TUHAN yang tidak nampak dan ini adalah tindakan yang salah (band. 2 Samuel 17:45-47)


C. Berpengharapan yang teguh kepada kesetiaan TUHAN (6,78,9). Manusia diciptakan dengan memiliki"hati nurani" untuk menimbang dan memutuskan yang baik dan yang jahat menurut pikirannya, dan memiliki kehendak bebas untuk melakukan kehendak hati dan pikirannya. Namun jika manusia itu dikendalikan oleh kasih karunia Allah, kesetiaan Allah, keadilan Allah, belas kasihan Allah dan penjagaan Allah, maka sejauh mana manusia itu berusaha menjauh dari TUHAN, sejauh itu pula tangan TUHAN akan meraihnya kembali (band. 2 Samuel 11 - Pasal 21) hingga menuntun kita pada ucapan syukur seperti Daud (band. 2 Samuel 22).


Kata "setia" dalam ayat 6 ( אֱמֶ֣ת - e met) memiliki arti kesetiaan yang berakar pada kebenaran Allah, bukan sekedar kesetiaan semu sehingga jika kita mengalami hal-hal besar didalam hidup kita karena kesetiaan TUHAN bagi kita, itu pasti menuntun kita pada kebenaran TUHAN sendiri (1 Korintus 1:9; 2 Tesalonika 3:3)


Kiranya Allah yang setia menolong kita dan menjaga kita. Soli Deo Gloria 



Tesbatan, 19 Oktober 2025


Pdp. Kristovianus Masneno, S.Th.,M.Pd

Tuesday, September 30, 2025

SIAPAKAH AKU??

 Siapakah Aku....


"Au Revoir" ....

Sebuah frasa Perancis yang berarti "sampai jumpa lagi" atau "selamat tinggal" dalam bahasa Indonesia. Ini adalah cara yang sopan untuk berpamitan kepada seseorang dengan harapan akan bertemu lagi dimasa depan. 


"Adieu".....

Sebuah frasa Perancis yang berarti "sampai jumpa lagi" atau "selamat tinggal". Kata ini digunakan dalam situasi yang lebih formal atau emosional seperti mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang akan pergi jauh atau tidak akan bertemu lagi.


Imamat 20:26 Firman TUHAN menyatakan......."Aku telah memisahkan kamu..... 


Kata Ibrani dari "memisahkan" adalah וָאַבְדִּ֥ל (wa. ab.dil) dari akar kata בָּדל (bah - dal) yang memiliki arti dasar difference, divide, separate, sever, set apart, separated, excluded atau set aside


Ketika TUHAN menyatakan "......memisahkan...." Memberikan arti bagi kita bahwa:


1. Pemilihan. TUHAN telah memilih umat-Nya menjadi milik-Nya sendiri 

2. Pengudusan. TUHAN telah memisahkan umat-Nya dari bangsa - bangsa lain untuk menjadi kudus bagi-Nya.

3. Kepemilikan. TUHAN telah memisahkan umat-Nya untuk menjadi milik-Nya sendiri. 


Ketika kita mengalami TUHAN didalam hidup kita, mungkin kita mengalami yang namanya di - separated (ESV) atau set you apart (NIV, NLT dll) - yang memiliki konotasi yang agak moderat atau lebih lunak seperti terjemahan sebagian besar edisi Alkitab. 

Atau mungkin kita akan mengalami yang namanya di - severed (KJV) - yang memiliki konotasi dipisahkan secara kasar dari dunia karena TUHAN, dalam kekudusan -Nya tidak terhampiri oleh yang berdosa ini.


Kata ".....memisahkan....." Dalam bagian ini juga di terjemahkan dengan kata "chosen" (CEV)  yang berarti dipilih dengan teliti untuk menjadi milik pusaka TUHAN. Jadi bukan dipilih dengan sembarangan. 


Dengan demikian kita harus mengerti siapa diri kita, dimana posisi kita ketika kita mengaku dengan lidah kita, percaya dengan hati kita, dan menundukkan diri dibawah otoritas Kristus sebagai milik kepunyaan -Nya. 

Bagaimana sikap kita atas dosa, keinginan daging, dunia? 

Apakah kita akan berkata "Au revoir" - sampai jumpa dengan harapan bisa bertemu kembali atau apakah kita akan berkata "adieu" - selamat tinggal dan menjaga diri sehingga tidak lagi bersinggungan dengan dosa lagi.


Kita masih hidup didunia, dan sebagai makhluk sosial, kita akan berinteraksi dengan dunia. 

Ada baiknya kita menggarami dunia sehingga kita memiliki dampak daripada kemudian menjadi tawar dan tidak berguna (Matius 5:13).

MARI SEBERANGI SUNGAI EFRAT

Bacaan: Kejadian 10:21-31 Dikatakan didalam Firman Tuhan bahwa Sem adalah bapa leluhur semua keturunan Eber. Kemudian Eber ini adalah keturu...